Merajut Ukhuwah di Kaki Meratus: Lazismu Kalsel Salurkan Kado Kemerdekaan untuk Warga Desa Patikalain

HULU SUNGAI TENGAH – Semarak kemerdekaan sejatinya bukan hanya milik mereka yang berada di hiruk-pikuk perkotaan. Jauh di pelukan asri Pegunungan Meratus, kehangatan persaudaraan itu turut dirasakan oleh masyarakat Desa Patikalain, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan.
Pada tanggal 19 Agustus 2026 lalu, Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kalimantan Selatan menempuh perjalanan menuju desa tersebut untuk menyapa warga. Kehadiran tim relawan ini membawa amanah kebaikan berupa paket “Kado Kemerdekaan” yang berisi sembako, serta sejumlah bantuan pakaian layak pakai.
Langkah filantropi ini terasa semakin istimewa karena menyasar masyarakat di wilayah pedalaman, khususnya para mualaf binaan Muhammadiyah. Namun, indahnya ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) turut dipraktikkan secara nyata dengan merangkul seluruh elemen warga. Bantuan ini tidak hanya diberikan kepada mereka yang telah memeluk Islam, tetapi juga didistribusikan secara merata kepada warga sekitar yang masih memegang teguh kepercayaan leluhur setempat, atau yang akrab disebut Kaharingan.

Dalam ekspedisi kebaikan ini, Lazismu Kalsel didampingi oleh Ustadz Masjuandi MD, atau yang akrab disapa Ustadz Andi. Beliau adalah salah satu dai tangguh Muhammadiyah yang secara rutin dan penuh keikhlasan mendarmabaktikan waktunya untuk keluar-masuk berdakwah membina warga di desa tersebut.
Rangkaian kegiatan pembagian sembako dan pakaian ini dipusatkan di Masjid Muhammadiyah Ar-Rahim. Bangunan suci ini tidak sekadar menjadi tempat untuk bersujud, melainkan telah difungsikan sebagai jantung pergerakan dakwah sekaligus Pusat Pembinaan Mualaf (Mualaf Learning Centre) di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Di sela-sela kehangatan pembagian Kado Kemerdekaan, Ustadz Andi menyempatkan diri untuk memberikan tausyiah singkat. Nasihat-nasihat agama disampaikan dengan bahasa yang ringan, santai, namun sarat akan makna persaudaraan dan rasa syukur. Tausyiah tersebut menjadi siraman rohani yang menyejukkan hati warga di tengah suasana kekeluargaan yang kental.

Kehadiran Lazismu dan pendampingan dari para dai ini menjadi pengingat bahwa esensi kemerdekaan adalah saat kita mampu saling peduli dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Insyaallah, bingkisan kemerdekaan ini tidak sekadar membantu memenuhi kebutuhan fisik warga Patikalain, tetapi juga menjadi syiar kasih sayang Islam yang semakin mengikat erat tali persaudaraan kemanusiaan di Tanah Borneo.




